Teori Konstruktivisme dalam Pembelajaran

Penekanan utama teori konstrukstivisme adalah lebih memberikan tempat kepada peserta didik dalam proses pembelajaran daripada guru. Teori ini berpandangan bahwa siswa berinteraksi dengan berbagai objek dan peristiwa sehingga mereka memperoleh dan memahami pola-pola penanganan terhadap ojek dan peristiwa tersebut. Dengan demikian, siswa sebenarnya mampu membangun konseptualisasi dan pemecahan masalah mereka sendiri. Oleh karena itu, kemandirian dan kemampuan berinisiatif dalam proses pembelajaran sangat didorong untuk dikembangkan.
Para ahli konstuktivisme memandang belajar sebagai hasil dari konstruksi mental. Para siswa belajar dengan cara mencocokkan informasi baru yang mereka peroleh bersama-sama dengan apa yang telah mereka ketahui. Siswa dapat belajar dengan baik jika mereka mampu mengaktifkan konstruk pemahaman mereka sendiri.
Menurut ahli konstruktivisme, belajar juga dipengaruji oleh konteks, keyakinan, dan sikap siswa. Dalam proses pembelajaran, siswa didorong untuk menggali dan menemukan pemecahan masalah mereka sendiri serta mencoba merumuskan gagasan-gagasan dan hipotesis. Mereka diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk membangun pengetahuan awal mereka.
Dalam perkembangannya, muncul banyak pemikiran dalam teori konstruktivisme, namun semua berdasarkan pada asumsi dasar yang sama tentang belajar. Dua teori konstruktivisme yang utama dikenal dengan istilah “Konstruktivisme Sosial” (Social Constructivism) dan “Konstruktivisme Kognitif” (Cognitive Constructivism). Akhir-akhir ini proses pembelajaran konstruktivisme didasarkan pada temuan-temuan penelitian mutakhir tentang “pikiran manusia” dan apa yang dikenal dengan “bagaimana proses belajar terjadi”.
Sumber:
Asrori, Mohammad. 2007. Psikologi Pembelajaran. Bandung: CV. Wacana Putra

Poskan Komentar