Teori Belajar Gestalt

Pandangan para ahli psikologi gestalt tentang teori belajar berbeda dengan ahli psilologi asosiasi. Psilologi gestalt memandang bahwa belajar terjadi jika diperoleh insight (pemahaman). Insight timbul secara tiba-tiba, jika individu telah dapat melihat hubungan antara unsur-unsur dalam situasi problematis. Dapat pula dikatakan bahwa insight timbul pada saat individu dapat memahami struktur yang semula merupakan suatu masalah. Atau dengan kata lain insight adalah semacam reorganisasi pengalaman yang terjadi secara tiba-tiba, seperti ketika sesorang menemukan ide baru atau menemukan pemecahan suatu masalah.
Belajar dengan insight (insight learning) sebagai dasar teori gestalt tercermin dalam tulisan hasil penelitian yang dilakukan oleh Walfgang Kohler (1929) dan Kurt Koffka (1929). Kohler melakukan percobaan terhadap seekor simpanse yang dimasukkan ke dalam seubuah kandang. Di atas kandang terdapat pisang. Dengan hanya menjulurkan tangan, pisang tidak dapat dijangkau. Di dalam kandang terdapat tiga buah kotak. Dalam situasi demikian, simpanse selalu berusaha untuk menjangkau pisang. Akhirnya ia menemukan hubungan antara dirinya, tiga buah kotak dan pisang. Dengan menumpukkan ketiga kotak tersebut, ia dapat menjangkau pisang begitu berdiri di atasnya. Kohler menamakan hal ini dengan insight. Insight diperoleh secara tiba-tiba begitu ia menemukan hubungan antara unsur-unsur dalam situasi yang semula merupakan suatu masalah bagi dirinya.
Max Wartheimer (1945) dan Katona (1940) mencoba mempelajari tentang insight pada manusia. Wartheimer menggambarkan bagaimana siswa dapat memecahkan soal geometri. Dengan hanya mengetahui rumus luas sebuah segi empat, disuruh memecahkan sebuah soal mencari luas sebuah jajaran genjang. Sementara ada siswa yang mengalikan panjang dengan lebar (analogi dengan rumus luas segi empat). Tentu hal ini merupakan cara yang salah. Tetapi siswa lain yang depat melihat inti dari struktur jajaran genjang, mendapatkan bahwa dengan menarik sebuah diagonal akan dapat dua buah segitiga sama dan sebangun (kongruen). Dengan mencari luas sebuah segitiga dikalikan dua, siswa tersebut dapat memperoleh pemecahan soal. Jadi insight pada dasarnya dapat pula diperoleh dengan melihat struktur esensial dalam situasi problematis.
Sumber:
Sumiati & Asra. 2007. Metode Pembelajaran. Bandung: CV. Wacana Prima
Artikel Terkait
•  Teori Belajar Asosiasi
•  Strategi Pembelajaran Peer Lesson
•  Strategi Pembelajaran Group to Group
•  Penerapan Strategi Student-created Studies
•  Penerapan Strategi Mind Maps
•  Teknik Khusus Mengaktifkan Siswa dalam Proses Pembelajaran
•  Penerapan Teori Konstruktivisme di Kelas
•  Ciri-ciri Pembelajaran Konstruktivisme
•  Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT)
•  Penataan Ruang Kelas Menjadi Sentra Belajar
•  Pembelajaran Problem Based Learning pada Mata Pelajaran PKn
•  Metode Pembelajaran dalam Pendidikan Agama Islam (PAI)
•  Efektivitas Komunikasi Antar Pribadi dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa
•  Pemanfaatan Tutor Sebaya dalam Remedial untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa
•  Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Melalui Pembelajaran Model Dialog Interaktif

Poskan Komentar