Teknik Khusus Mengaktifkan Siswa dalam Proses Pembelajaran

Sebagus apapun strategi pembelajaran yang digunakan, guru tetap memerlukan teknik khusus untuk mengaktifkan kelas. Berikut dikemukakan beberapa teknik khusus yang diperlukan untuk mendorong keaktifan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.
  1. Humor and joking, yaitu ungkapan atau cerita-cerita lucu terkait dengan pokok bahasan, untuk menyegarkan situasi dan untuk memancing dan menumbuhkan rasa humor di kalangan siswa.
  2. Questioning, yaitu menerapkan teknik-teknik bertanya yang tepat untuk memancing keterlibatan belajar siswa. Penerapan teknik bertanya yang tepat dapat menuntun siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan berpikir keratif dalam menguraikan suatu persoalan atau menemukan jawaban-jawaban atas tugas yang diberikan.
  3. Brainstorming, yaitu teknik untuk memancing curah pendapat di kalangan siswa terkait dengan isu-isu tertentu atau tentang hal yang akan dipelajari agar siswa dapat mengaitkan antara pengetahuan dan pengalaman sebelumnya dengan pokok bahasan yang akan dipelajarinya. Teknik ini dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti penentuan tugas belajar, curah pendapat mengenai suatu kejadian atau isu, atau keperluan lain untuk mendorong keterlibatan aktif siswa. Teknik ini sangat baik untuk mengembangkan daya imajinasi dan kemampuan berpikir kreatif siswa.
  4. Educative touching, yaitu sentuhan akrab seperti tepukan tangan di pudak atau usapan jari di kepala siswa. Jika dilakukan baik di saat yang tepat, tindakan semacam ini dapat menimbulkan efek psikologis yang mendukung aktivitas belajar. Sentuhan seperti itu dapat memberi semangat belajar saat siswa menyelesaikan tugas, memberi kesejukan hati saat mengalami kesulitan belajar, dan secara umum menunjukkan perhatian penuh guru atas aktivitas dan perilaku belajar siswa.
  5. Kuis dan game, yaitu menghadirkan situasi permainan dalam membahas atau mempelajari pokok bahasan tertentu. Topik-topik tertentu akan lebih mudah dipahami dan menyenangkan untuk dipelajari jika pembelajarannya dilakukan dalam bentuk kuis atau game tertentu.
  6. Modeling, yaitu pemberian contoh atau peragaan terhadap kompetensi atau perilaku belajar tertentu yang diharapkan dikuasai siswa. Siswa dapat lebih mudah memahami suatu pokok bahasan jika bagian-bagian yang menjadi unit pembelajarannya diberi contoh atau peragaan konkrit oleh guru.
  7. Immediate feedback and rewards, contingent-specific-credible prise, yaitu pemberian balikan dan penghargaan kepada siswa segera setelah menunjukkan kinerja belajar yang efektif. Teknik ini, jika dilakukan dengan tepat, dapat mendorong keterlibatan belajar lanjut yang lebih intensif.
  8. Independent practice dan seatwork, yaitu tugas-tugas belajar untuk diselesaikan secara mandiri oleh siswa, baik selama proses pembelajaran dalam kelas, ataupun sebagai tugs pekerjaan rumah.
  9. Autehentic assignment, yaitu memberikan tugas yang berkaitan langsung dengan dunia faktual yang ada di sekitar siswa. Ini bisa berupa pemberian tugas yang terkait dengan pengalaman pribadi siswa (self experience report) atau yang terkait dengan kejadian-kejadian yang terjadi, diamati, dialami setiap hari di lingkungan sekitar mereka.
  10. Small group discussion, yaitu pemberian tugas belajar yang harus dikerjakan secara bersama oleh siswa dalam kelompok-kelompok kecil. Teknik ini memberikan peluang kepada keseluruhan anggota tim untuk terlibat aktif dalam pembelajaran.
Sumber:
__________, 2006. Model Pembelajaran Efektif pada Sekolah Unggulan di Sulawesi Selatan. Makassar: Universitas Negeri Makassar

Poskan Komentar