Ajaran Guru Sufi; Rabi’ah al-'Adawiyah

Rabi’ah dilahirkan di Bashrah. Dia digambarkan oleh penulis-penulis biografinya sebagai “wanita yang luluh dalam penyatuan dengan Tuhan, wanita yang diterima para lelaki sebagai perawan Maryam kedua.”
Ketika masih kanak-kanak dia diculik dan dijual sebagai budak, tetapi kemudian dibebaskan oleh tuannya, ketika tuannya menyadari bahwa Rabi’ah adalah seorang pilihan Tuhan. Dia lalu memasrahkan diri untuk beribadah dan pengabdian kepada Allah. Rabi’ah memiliki banyak murid, yang mencari nasihat dan doa-doanya.
Suatu hari Rabi’ah terlihat membawa api di tangan kanannya dan air di tangan kirinya dan dia berlari dengan sangat cepat. Mereka menanyainya, apa arti perbuatannya itu dan kemana dia akan pergi. Dia menjawab, “Aku akan menyalakan api di surga dan menyiramkan air ke neraka, agar kedua selubung (yakni penghalang bagi pandangan sejati Tuhan) benar-benar terbuka bagi para peziarah, dan mereka menjadi yakin, dan hamba-hamba Tuhan mampu melihat-Nya, tanpa harap ataupun takut. Bagaimana jika harapan tentang surga dan ketakutan akan neraka tidak ada? Tak seorang pun menyembah Tuhan atau mematuhi-Nya.”
Hal terbaik bagi hamba yang ingin berdekatan dengan Tuhannya adalah untuk tidak memiliki apa pun di dunia ini atau di dunia esok kecuali Dia semata. Aku tidak mengabdi kepada Allah karena ketakutan akan neraka, karena aku akan menjadi hamba yang buruk, jika aku melakukannya karena rasa takut. Tidak juga karena kecintaan pada surga, karena aku akan menjadi hamba yang buruk jika aku mengabdi demi apa yang diberikannya. Tetapi aku telah beribadah kepada-Nya dan karena hasratku hanya kepada-Nya.
Tetangga dulu, baru kemudian rumah: tidakkah ini cukup bagiku bahwa aku diberi kebebasan untuk menyembah Dia? Sekalipun surga dan neraka tidak ada, tidakkah ini mendorong kita untuki mematuhinya? Dia layak mendapatkan persembahan tanpa maksud apapun.
Oh Tuhanku, jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka, bakarlah aku di neraka, dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga, buanglah aku dari sana, tetapi jika aku menyembah-Mu karena Engkau semata, maka jangan tampik aku dari Kecantikan Abadi-Mu.
Jeritan dan rintihan kekasih Tuhan tidak akan terpuaskan sampai ia memuaskan Sang Kekasih.
Aku telah menjadikan-Mu sahabat kalbuku
Tetapi tubuhku siap sedia bagi mereka yang
menginginkan persahabatan
dan tubuhku akrab dengan tamu-tamunya,
tetapi Sang Kekasih hatiku adalah Tamu jiwaku
Kedamaianku adalah dalam kesunyian, tetapi Kekasihku selalu bersamaku. Tak ada sesuatu pun dapat menggantikan cinta-Nya dan ini menjadi ujian bagiku di tengah makhluk hidup. Kapan pun aku merenungkan Keindahan-Nya, Dia adalah mihrab-ku, Dia adalah kiblatku. Oh Penyembuh jiwa-jiwa, hati penuh dengan hasratdan menjadi perjuangan keras untuk bersatu dengan-Mu yang telah menyembuhkan jiwaku. Engkau adalah Kesenangan dan Hidupku untuk selamanya. Engkau adalah sumber kehidupanku, dari Engkau luapan gembiraku. Aku telah menjauhkan diriku dari makhluk ciptaan-Mu. Harapku adalah bersatu dengan-Mu, karena itulah tujuan pengembaraanku.

Poskan Komentar