Ajaran Guru Sufi; Jalaluddin Rumi

Jalaluddin Rumi dilahirkan di Balkh, tapi keluarganya kemudian hijrah ke Konya di Rum. Jalaluddin Rumi melakukan studi menyeluruh tentang sufisme dan mengabdikan diri dalam paru usia, sepenuhnya kepada mistisisme. Dia menciptakan tarian-tarian mistis dan mungkin merupakan awal dari tarekat Darwis-darwis yang Menari, yang dikenal sebagai The Brethren of Love (Persaudaraan Cinta), karena suluruh basis jalan hidup mereka adalah kecintaan kepada Tuhan.
Karya-karya Rumi yang paling dikenal adalah Diwan-i Shams-i Tabriz dan Matsnawi, puisi dalam untaian-untaian yang bersajak, sebuah puisi mistis yang agung, yang disebut-sebut telah mengbiskan waktu empat puluh tahun untuk menyelesaikannya.
Setiap bentuk yang kau lihat memiliki muasal dalam dunia Ilahiah, yang tiada bertempat. Jika bentuk berlalu, seandainya tiada akibat, karena muasalnya. Janganlah berdukan kalau-kalau setiap bentuk yang kau lihat, setiap perkataan mistis yang telah kau dengar telah berlalu, karena tidaklah demikian. Karena sumber asli tak kunjung lekang, salurannya selalu memancarkan air. Sebab tak pernah berhenti, mengapa harus kau keluhkan? Anggaplah ruh sebagai sebuah sumber dan makhluk-makhluk ini sebagai sunga-sungai: sepanjang sumber abadi, sungai-sungai mengalir darinya. Lepaskan kekecewaan dari pikiranmu dan tetaplah minum dari anak sungai. Jangan takut bahwa air sungai akan berhenti mengalir, karena air ini tak terbatas.
Dan ketika kau masuk ke dunia makhluk-makhluk ciptaan, sebuah tangga telah dipersiapkan untukmu, agar kau mendakinya. Awalnya kau barang mati, kemudian kau menjadi tetumbuhan, setelah itu kau berubah menjadi hewan, mengapa ini tersembunyi darimu? Akhirnya kau menjadi manusia, yang memiliki ilmu, kecerdasan dan keyakinan. Lihat bagaimana tubuh ini telah menjadi sempurna, yang awalnya sebuah atom dari tumpukan debu. Ketika kau telah melakukan perjalananmu dari manusia, tanpa bertanya kau akan menjadi seorang malaikat. Kemudian kau akan selesai dengan dunia ini dan tempatmu adalah di langit-langit. Kau pun berubah dari malaikat: masuklah ke kedalaman yang besar: agar satu tetes, yakni dirimu sendiri, bisa menjadi lautan yang akan menggenggam ratusan lautan ‘Uman. Lepaskan penyekutuan diri, katakan, “Tuhan adalah Esa” dengan sepenuh kalbu dan jiwa. Jika tubuhmu telah menjadi tua, mengapa berduka ketika ruhmu tetap muda?
Oleh cinta, yang pahit menjadi manis, tembaga beralih jadi emas. Oleh cinta, yang keruh jadi jernih. Oleh cinta, derita terlepas. Oleh cinta, yang mati jadi hidup. Oleh cinta, raja beralih jadi budak. Cintalah buah pengetahuan: kapan duduk dengan bodoh di atas tahta seperti ini? Keyakinan adalah cinta yang terpisah dari semua agama: bagi pecinta keyakinan dan agama adalah Tuhan. Oh ruh, dalam berjuang dan mencari, jadilah seperti air yang mengalir. Oh akal, siaplah sepanjang masa untuk menyerahkan kefanaan demi keabadian. Ingatlah Tuhan selalu, bahwa keakuan harus dilupakan, agar dirimu diperlihatkan dalam Dia Yang kepada-Nya kau berdoa, tanpa peduli pada siapa yang berdoa, atau doa itu.
Setiap saat suara cinta berkumandang dari kiri ke kanan; kami sedang melakukan perjalanan di atas jalan kami menuju langit, yang penuh harap untuk memandang apa pun di jalan itu? Seketika rumah kami berada di langit, di sana kami berkerumun dengan para malaikat. Ayo, kembali ke kediaman itu, oh Tuhan, karena itulah tempat tinggal kami. Kami berada di atas langit-langit dan lebih besar dari malaikat-malaikat; mengapa kami tidak berada di atas keduanya? Perjalanan kami adalah penglihatan keagungan Tuhan. Dari mana dunia kefanaan, dari mana permata tulen? Meskipun kami telah melintasinya, biarkan kami cepat-cepat kembali, karena tempat apakah ini? Kekayaan anak muda yang baik adalah sarana kekuatan kami, memasrahkan hidup kami adalah urusan kami. Gelombang “Tidakkah Aku Tuhanmu?” muncul dan menghancurkan saluran tubuh. Ketika saluran lebur lagi, di situlah kesempatan untuk mencapai kesatuan. Makhluk hidup seperti burung-burung air, dilahirkan dari lautan ruh: mengapa harus seekor burung yang lahir dari lautan membangun kediamannya di tempat ini? Tetapi kami adalah batu-batu permata di kedalaman laut ini, kami semua memiliki tempat di sini: kalau tidak mengapa harus gelombang demi gelombang muncul dari lautan ruh? Ini kesempatan bagi kami untuk mencapai kesatuan, waktunya tiba untuk meraih keindahan keabadian, waktunya untuk makin mendekat dan menerima berkah-berkah, inilah lautan kemurnian yang sempurna. Gelombang berkah telah muncul, Singgasana Tuhan telah terbit dari laut, fajar kebahagiaan telah menyingsing: Inikah sang fajar? Bukan, cahaya Tuhan. Cahaya Tuhan memancarkan sinarnya ke cahaya indera: itulah makna Cahaya atas Cahaya. Cahaya inderawi menarik kita menuju bumi: Cahaya Tuhan menarik ke atas langit.
Oh para pecinta, waktunya telah tiba untuk lepas dari dunia. Genderang berkumandang di telinga ruhku, yang menyerukan kita untuk melakukan perjalanan. Tataplah, penunggang unta itu telah bertindak sendiri menyiapkan unta-untanya dan menginginkan kita memulai perjalanan. Mengapa kau masih terlelap, oh para pegembara? Suara-suara yang kita dengar ini dari depan dan belakang mengisyaratkan perjalanan, sebab mereka adalah bel-bel unta. Setiap saat berlalu, sebuah jiwa berlalu dari kehidupan dan mulai beranjak menuju dunia Ilahi. Dari sini bintang-gemintang yang berkilauan dan dari sini tirai-tirai biru langit, mendatangi orang-orang yang menakjubkan, agar ketakjuban misteri terungkap. Dari sini bulatan-bulatan yang berevolusi mendatangkan kantuk yang berat kepadamu. Berhati-hatilah dengan kehidupan dunia yang sementara, perhatikanlah kantuk yang berat ini. Oh kalbu, berangkatlah menuju Sang Kekasih. Oh teman, pergilah ke Sahabatmu. Wahai penjaga, terjagalah, karena tidur tidak menjadikanmu seorang penjaga.

Poskan Komentar