Makna Kasta dalam Masyarakat Hindu

Di dalam masyarakat Hindu dikenal adanya tingkatan-tingkatan kelas yang disebut dengan kasta. Terdapat empat kasta dalam masyarakat Hindu, yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Dari keempat kasta tersebut yang tertinggi adalah Brahmana, karena dalam buku ke-10 Rig-Veda tertulis: “golongan Brahmana keluar dari mulut Dewa Brahmana, golongan Ksatria dari tanganya, Waisya dari paha atau perutnya, Sudra keluar dari telapak kakinya”.
Arti kiasan yang mengatakan bahwa golongan Brahmana keluar dari mulut Dewa Brahma adalah bahwa golongan Brahmana adalah guru rakyat, karena bukankah mulut itu saluran buah pikiran? Oleh karena itu golongan Brahmana merupakan kasta tertinggi yang suaranya harus didengar dan ditaati. Golongan ini terdiri atas para pendeta dan pemimpin agama. Tugasnya menjalankan upacara-upacara keagamaan.
Golongan Ksatria yang dikatakan keluar dari tangan Brahma berarti, berarti bahwa golongan Ksatria menjadi golongan pemerintah, karena tangan diperlukan untuk memanggul senjata pada saat peperangan menahan serangan musuh. Golongan Ksatria terdiri dari raja, bangwasan, dan prajurit. Tugasnya menjalankan pemerintahan.
Kasta Waisya keluar dari perut atau paha Dewa Brahma. Paha berfungsi membawa tubuh dari suatu tempat ke tempat lain. Oleh karena itu, Kasta Waisya terdiri dari pada pedagang yang membawa dagangan ke berbagai tempat. Dengan kata lain kasta Waisya bertugas menjalankan roda perekonomian.
Kasta Sudra keluar dari telapak kaki Dewa Brahma. Kaki adalah bagian tubuh yang paling di bawah, maka kasta Sudra menjadi kasta yang paling rendah kedudukannya dan harus melayani kasta-kasta yang ada di atasnya.
Selain keempat kasta tersebut, masih terdapat golongan yang lebih rendah dari Sudra disebut kasta Paria. Mereka sering disebut outcast (di luar kasta) atau untouchable (tidak boleh disentuh). Mereka adalah golongan terbuang berasal dari bangsa Dravida yang mendapat perlakuan diskriminasi oleh bangsa Arya karena mereka berkulit hitam dan berhidung pesek.
Anonim mengatakan...

Tulisan tuanguru masih memakai literatur Rg Veda, terjemahan Max Muller, seorang misionaris kristen berkedok ilmuwan(Indolog) yg dibayar sangat tinggi oleh kolonialis Iggris.

Sebagai pembanding terhadap tulisan tuanguru alangkah baiknya tuanguru melihat tulisan berikut :

http://dharmagupta.blogspot.com/2012/03/sejarah-kasta-di-india-dan-bali.html

Anonim mengatakan...

betul akang ,, di hindu tidak ada catur kasta yg ada CATUR WARNA lahir dari tugas dan pekerjaan seseorang atau kelompok tugas, bila pendeta, pemangku, agama masuk golongan brahmana dlsbnya,,,, TNI, scuirty, pemerintah klompok ksatria ,, sedangkan kasta muncul dari kelompok warga tertentu setelah masuknya para arya jawa di bali, misal, warga ida bagus masuk golongan brahmana, para arya jawa masuk ksatria dll ,, sedangkan bali mula yg dikalahkan masuk klompok jaba di luar dr hirarki kekuasaan ,,

Herjan mengatakan...

kalau kasta Brahmana ?

Poskan Komentar