Praktek Kolonialisme Daendels dan Raffles

Tanggal 28 Januari 1807, Herman Willem Daendels diangkat sebagai gubernur jenderal Belanda di Asia dengan tugas utama melindungi dan mempertahankan tanah jajahan Belanda terhadap Inggris yang besar kekuasaanya di daerah-daerah pengaruh Belanda.1)
Seiring dengan maksud tersebut, Daendels segera mengadakan perbaikan-perbaikan terutama dalam bidang  kemiliteran, antara lain dengan menambah tentara dan sukarelawan-sukarelawan pribumi, mendirikan pabrik senjata di Surabaya dan sekolah perwira di Semarang, serta pabrik cor besi meriam di Betawi.2)
Pembuatan jalan raya dari Anyer sampai Panarukan merupakan rangkaian dari usahanya untuk pertahannya di pulau Jawa yang dalam proses pembuatannya menimbulkan banyak korban di kalangan pribumi. Terhadap raja-raja di Jawa, Daendels melakukan tindakan seperti menjadikan Banten sebagai daerah gubernur jenderal, di Cirebon kekuasaan raja-raja dikurangi; di Surakarta dan Yogyakarta, Daendels menghapuskan upacara-upacara kerajaan.3) Dengan demikian, Daendels berusaha menancapkan kekuasaanya dengan menjadikan raja-raja pribumi sebagai raja bawahannya.
Ketika di Yogyakarta timbul perselisihan perihal pergantian raja, Daendels pun datang kesana dengan tentaranya dalam jumlah besar. Kedatangan Daendels dengan ekspedisi militernya ini mengakibatkan Sultan Hamengkubuwono II dipaksa turun dari tahtanya dan digantikan oleh putra mahkotanya menjadi raja dengan Sultan Hamengkubuwono II atau Sultan Rojo.4)  Peristiwa ini memberi kesempatan kepada Daendels untuk memaksa Yogyakarta dan Surakarta menerima perjanjian baru pada tahun1811 yang menyebabkan kedua negara itu kehilangan sebagian wilayahnya.
Untuk biaya pertahanan pulau Jawa, penaikan gaji pegawai-pegawai dan biaya peperangan raja-raja di Jawa, Daendels terpaksa mencari jalan pemerasan dengan menjual tanah-tanah partikulir kepada orang-orang Tionghoa, pinjaman paksaan, penyewaan rumah-rumah penduduk dan monopoli beras, menyita rumah-rumah gadai, balai lelang dan balai peninggalan harta.5)
Persaingan antara Belanda dan Inggris berkembang menjadi permusuhan sejak Belanda dikuasai oleh Perancis, yakni sejak kaisar Napoleon Bonaparte mengangkat saudaranya Louis Napoleon menjadi raja di negeri Belanda. Karena itu Inggris mengancam kedudukan Belanda di Indonesia  dengan mengirim ekspedisi ke Indonesia. Ekspedisi yang dikirim oleh Lord Minto (Gubernur Jenderal Inggris di Calcutta) berhasil merebut kekuasaan Belanda di Indonesia pada tahun 1811 yang waktu itu dikuasai oleh Gubernur Jansens (pengganti Daendels). Jansens terpaksa menyerah tanpa syarat kepada Inggris pada tahun 1811 di Tuntang (dekat Salatiga).
Untuk melaksanakan kolonialnya di Indonesia diangkat Thomas Stanford Raffles menjadi gubernur jenderal untuk Jawa dan daerah-daerah bawahannya pada 18 Maret 1811. Selama masa kekuasaan Inggris di bawah pemerintahan Raffles, dilakukan perubahan-perubahan penting, antara lain:
  1. Pulau Jawa dibagi atas 18 keresidenan yang dipimpin oleh seorang residen sebagai daerah untuk memperlancar pemerintahan.
  2. Kerja rodi dan tanam paksa (kecuali kopi di Priangan) akan dihapuskan.
  3. Melarang perdagangan budak dan berusaha memperbaiki nasib rakyat.
  4. Mengadakan pembaharuan dalam pengadilan sesuai pengadilan di Inggris.
  5. Bupati-bupati dijadikan pegawai negeri.
  6. Pertanian dan perdagangan bebas.
  7. Mengadakan pajak tanah (land rente).
  8. Menjual tanah kepada orang-orang partikulir.
  9. Monopoli perdagangan garam.
  10. Mengadakan penelitian tentang sejarah, kebudayaan dan kesenian, kemudian menuliskannya dalam buku ”History of Java”.6)
Pembaharuan yang dilakukan Raffles tidak terlepas dari faham “Liberty, Egality, dan Fraternity” (kebebasan, persamaan dan persaudaraan) dari revolusi Perancis. Dan jika kita menelusuri satu demi satu pembaharuan Raffles di atas nampak adanya kecenderungan untuk memperbaiki nasib tanah jajahan. Raffles mengupayakan dasar perekonomian bersifat liberal yang menghendaki agar kehidupan ekonomi diberi kebebasan yang seluas-luanya dan supaya pemerintah sedapat mungkin tidak mencampuri urusan perekonomian sehingga memberi kesempatan kepada pengusaha untuk mengembangkan diri.
Daftar Referensi:
1)  Hasan Sadily. 1987. Ensiklopedia Umum. Jogyakarta: Kanisius, hal. 247-248
2)  Ibid., hal, 248
3)  Anwar Sanusi. 1960. Sejarah Indonesia. Bandung, hal. 66
4)  Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. 1984. Sejarah Nasional Indonesia 
     Jilid IV. Jakarta: Balai Pustaka, hal. 3-4
5)  Rakhmat Subagya. 1960. Sekitar Feodalisme di Indonesia. Yogyakarta: Basis, hal. 67
6)  Muhammad Abduh, et.al. 1985. Sejarah Indonesia Madya. FPIPS IKIP Ujungpandang, hal. 76
Artikel Terkait dengan Sejarah
•  Pengertian Sejarah
•  Awal Perkembangan Islam di Cina
•  Korte Verklaring (Perjanjian Pendek)
•  Peranan Pemuda dalam Sejarah Perjuangan Bangsa
•  Asas dan Bentuk Perjuangan Organisasi Perhimpunan Indonesia
•  Latar Belakang Rasionalisasi dan Reorganisasi Angkatan Perang RI
•  Akibat Praktek Kolonial Daendels dan Raffles
•  Praktek Kolonial Daendels dan Raffles
•  Als ik eens Nederlander was (Andaikata Aku Seorang Belanda)
•  Dampak Positif dan Negatif Pendudukan Jepang di Indonesia
•  Sejarah Singkat Perguruan Taman Siswa
•  Perkembangan Pers di Indonesia Hingga Terbentuknya Pers Nasional
•  Peranan Pers dalam Pergerakan Nasional Indonesia
•  Perjuangan Melalui Volksraad
•  Sifat dan Strategi Perjuangan Organisasi Pergerakan Nasional pada Periode Bertahan

Poskan Komentar