Pembelajaran Terpadu

Pembelajaran terpadu (pembelajaran integratif) terdiri dari dua konsep yaitu pembelajaran dan terpadu. Pembelajaran diartikan sebagai kegiatan mengajar dan belajar. Mengajar merupakan proses pengupayaan terjadinya perubahan perilaku peserta didik. Sedangkan belajar merupakan perubahan perilaku yang terjadi pada diri individu dalam berbagai aspek, baik perubahan pengetahuan nilai atau sikap maupun tindakan. Dengan demikian, konsep pembelajaran pada dasarnya mengacu kepada segenap upaya pengubahan dan perubahan perilaku peserta didik. Pembelajaran meliputi segenap kegiatan yang diorganisir guru secara sengaja dengan tujuan untuk mengubah perilaku peserta didik, sekaligus juga menyangkut segenap proses dan hasil perubahan yang terjadi dalam diri individu peserta didik.
Terpadu yang berasal dari bahasa Inggris-nya “integrated” mengandung arti tergabung, atau dijadikan satu. Dengan demikian pembelajaran terpadu merupakan upaya proses perubahan perilaku yang terjadi sebagai akibat penggabungan atau penyatuan antara dua atau lebih materi pelajaran. Beane (1995:615) mengartikan pembelajaran terpadu sebagai pembelajaran yang memadukan beberapa pokok bahasan atau sub pokok bahasan antar bidang studi. Strategi tersebut dikenal dengan istilah pembelajaran lintas kurikulum atau pembelajaran lintas studi, atau disebut juga sebagai program pembelajaran lintas disiplin.
Terdapat berbagai jenis pembelajarn terpadu yang dapat digunakan, yaitu pembelajaran terpadu bertahap, berbagi, jejaring, dan bergalur.
1. Pembelajaran terpadu bertahap (sequenced integrated teaching-learning)
Pembelajaran terpadu bertahap merupakan pembelajaran yang ditempuh dengan cara Mengajarkan dua mata pelajaran yang secara material (bahan ajar) memiliki kesamaan materi dan keterkaitan antar keduanya. Terpadu ini ditempuh dalam upaya menyatukan materi-materi yang bercirikan sama dan terkait agar lebih menyeluruh dan utuh. Dengan demikian peserta didik mudah menrima, memahami, menyimpan dan mereproduksi serta menghayati makna yang terkandung dalam dua mata pelajaran tersebut. Penerapan pendekatan ini secara metodologis disampaikan dalam dua mata pelajaran, cukup disampai-gabungkan menjadi satu mata pelajaran. Untuk itu, penggabungan dalam penyampaian materi dapat ditempuh dengan cara mengatur sedemikian rupa waktu, materi secara bertahap. Seorang guru dalam hal ini tentu saja dituntut menggali atau memahami secara menyeluruh dan utuh tentang materi yang sama yang terdapat dalam dua mata pelajaran yang berbeda. Dengan kata lain, guru dituntut untuk mengidentifikasi dan memahami kesamaan materi, menyangkut tujuan, isi atau pesan metoda dan hasil belajar yang ditargetkan kedua mata pelajaran tersebut.
2. Pembelajaran integratif berbagi (shared integrated teaching-learning)
Pembelajaran terpadu berbagi adalah pendekatan atau tatacara pembelajaran yang dilakukan dengan cara berbagi pokok bahasan (materi) di antara mata pelajaran yang tumpang tindih (dimana satu pokok bahasan terdapat pada beberapa mata pelajaran). Pembelajaran terpadu ini ditempuh didasarkan pada kenyataan bahwa banyak dijumpai satu kemampuan yang pencapaiannya harus diwujudkan melalui dua atau lebih mata pelajaran. Oleh karena itu, agar hemat dan tepat, baik materi maupun tata cara persiapannya, perlu digabung melalui pendekatan berbagi. Dengan pendekatan seperti ini, tumpang tindih dan pengulangan materi antar mata pelajaran dapat dihindari. Contoh lain adalah kompetensi memilih makanan dan minuman dapat diwujudkan melalui mata pelajaran IPA (zat yang terkandung dalam tumbuhan), pendidikan kesehatan, berkaitan dengan ciri makanan dan minuman sehat, serta dapat dilakukan melalui pendidikan agama Islam (akhlak: adab makan dan minum).
3. Pembelajaran terpadu jejaring (webbed-integrated teaching-learning)
Pembelajaran terpadu jejaring adalah model pembelajaran yang dipergunakan untuk mengajarkan tema tertentu yang berkecenderungan dapat disampaikan melalui beberapa bidang studi lain. Dengan demikian model ini merupakan model yang mempergunakan pendekatan tematik lintas bidang studi. Untuk dapat menerapkannya seorang guru dituntut secara serius dan mendalam untuk memahami dan memilih tema pokok (esensial) yang memiliki keterkaitan materi yang secara metodologis bisa dipadukan. Guru dituntut jeli memilih dan memilah pokok bahasan yang kemudian tema utama atau pokok bahasan yang kemudian tema pokok tersebut disebarkan ke dalam berbagai mata pelajaran.
4. pembelajaran terpadu bergalur (threaded integrated teaching-learning)
Pembelajaran terpadu bergalur merupakan pendekatan pembelajaran yang ditempuh dengan cara mengembangkan gagasan pokok yang merupakan benang merah (galur) yang berasal dari konsep yang terdapat dalam berbagai disiplin ilmu. Sebagai contoh, konsep atau pengertian “makanan sehat” terdapat dalam berbagai disiplin ilmu, seperti dalam disiplin ilmu gizi, biologi, kimia, dan dalam ilmu agama itu sendiri (makanan yang “halalan thoyyiban”). Contoh lain adalah kompetensi “menjaga keselamatan di jalan raya” dapat diwujudkan melalui mata pelajaran IPS (pola interaksi manusia), pendidikan agama Islam (berakhlak di jalan), PKn (saling hormat menghormati), dan pendidikan kesehatan (menjaga keselamatan diri di jalan raya), dan bahasa Indonesia (kisah kecelakaan di jalan raya)
Dalam strategi pembelajaran model terpadu ini, seorang guru tentu dituntut memiliki kepiawaian untuk memahami secara detail dan terurai terhadap konsep-konsep yang berserakan tersebut sehingga menjadi konsep yang utuh. Guru perlu menarik benang merah atau menangkap galur-galur gagasan tentang suatu konsep yang terdapat dalam berbagai disiplin ilmu (mata pelajaran). Galur-galur tersebut kemudian disimpulkan secara rinci dari khusus ke umum sehingga sehingga menjadi konsep (pengetahuan, pemahaman) yang utuh dan menyeluruh. Penggunaan strategi pembelajaran model ini secara metodologis dapat mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta didik secara lebih efektif karena pendekatan ini menuntun peserta didik membuka wawasan dan cara berpikir yang luas dan mendalam melalui pemahaman terhadap konsep secara lintas disiplin ilmu.
Sumber: Depdiknas. 2008. Pengembangan Pembelajaran. Jakarta: Dir. PSLB, Dirjen Manajemen Dikdasmen, Depdiknas.
Artikel Terkait
•  Kelebihan dan Kekurangan Metode Drill
•  Penilaian Acuan Kriteria
•  Langkah-langkah Pembelajaran Kreatif dan Produktif
•  Pembelajaran Kreatif dan Produktif
•  Pendekatan Monodisiplin dan Interdisipliner dalam Pengorganisasian Materi IPS
•  Penerapan Pendekatan Kontekstual di Kelas
•  Langkah-langkah Pembelajaran Kreatif dan Produktif
•  Pembelajaran Kreatif dan Produktif
•  Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share
•  Metode Pembelajaran Model Simulasi
•  Pembelajaran yang Berorientasi pada Aktivitas
•  Strategi Everyone is Teacher Here
•  Meningkatkan Kemampuan Pronunciation Bahasa Inggris Siswa
•  Pemanfaatan Video Sebagai Media untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa
•  Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Team Games Tournament (TGT)

Poskan Komentar