Metodologi Penelitian Sejarah

Setiap disiplin ilmu memiliki metode penelitian yang berbeda sesuai dengan karakteristik masing-masing ilmu. Ilmu sejarah menggunakan metode yang disebut metode historis. Dalam penerapannya, metode ini menempuh tahapan-tahapan kerja yang spesifik dan merupakan ciri khas yang membedakan dengan metode penelitian ilmu sosial lainnya. Menurut Nugroho Notosusanto, metode historis memiliki tahapan-tahapan atau prosedur kerja sebagai berikut:
1.  Heuristik, yakni kegiatan menghimpun jejak-jejak masa lampau
2.  Kritik, yakni menyelidiki apakah jejak itu sejati, baik bentuk maupun isinya
3.  Interpretasi, yakni menetapkan makna dan saling berhubungan dari pada fakta-fakta yang
     diperoleh itu
4.  Penyajian, yakni menyampaikan sintesa yang diperoleh dalam bentuk kisah sejarah.
Prosedur yang dikemukakan di atas dalam pelaksanaannya harus sistematis, sesuai dengan urutannya. Maksudnya, interpretasi dilakukan setelah melalui tahap penilaian atau kritik sumber, begitu pula kritik dilakukan setelah data terkumpul. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan langkah-langkah yang ditempuh dalam proses penelitian sesuai dengan metode tersebut;
1. Heuristik
Tahap ini merupakan tahap awal penelitian berupa kegiatan pengumpulan data dengan cara penjajakan dan pencarian sumber yang berkaitan dengan topik penelitian. Kegiatan ini dilakukan untuk memperoleh sumber atau data sebanyak mungkin. Semakin banyak sumber yang terkumpul, semakin banyak pula fakta yang akan ditampilkan. Dengan demikian tulisan akan lebih mendekati obyektivitas.
Kegiatan pengumpulan sumber ini dapat dilakukan melalui penelitian perpustakaan (library research) berupa pengkajian buku, majalah, surat kabar, dan tulisan-tulisan lainnya. Dapat pula dilakukan melalui wawancara dengan para tokoh pelaku atau saksi sejarah yang masih hidup. Selain itu melalui penelitian lapangan, yakni langsung mengamati lokasi atau obyek sejarah yang diteliti.
2. Penilaian Data dan Kritik Sumber
Kegiatan ini dilakukan bila data yang dibutuhkan sudah cukup lengkap dan memadai. Bentuknya berupa penyaringan dan pengujian akan keabsahan data yang telah dikumpulkan. Kritik mengenai keabsahan data ini dilakukan karena dalam banyak hal, data sering bersifat spekulatif, sehingga perlu pemisahan antara data yang diterima dan data yang ditolak.
Karena setiap sumber mempunyai aspek ekstern dan aspek intern, maka penilaian terhadap sumber sejarah, memiliki dua segi pula, yaitu kritik luar (ekstern) dan kritik dalam (intern). Kritik ekstern bertujuan menguji otentitas atau keaslian suatu sumber. Louis Gottschalk mengemukakan bahwa:
Yang jelas merupakan bagian dari pada kritik ekstern adalah penekanan mengenai tanggal kira-kira dari pada dokumen dan suatu identifikasi dari pada yang menurut dugaan adalah pengarangnya (atau paling tidak suatu rabaan mengenai lokasinya dalam waktu dan dalam ruang, serta mengenai kebiasan, sikap, watak, pendidikan kenalan pengarang dan sebagainya). Jika tidak, maka adalah tidak mungkin untuk membuktikan atau menyangkal otentisitas dengan menunjukkan anakronisme, tulisan tangan, langgam, alibi atau ujian-ujian yang menyangkut lingkungan, personalitas dan kegiatan-kegiatan si pengarang.
Sedangkan kritik intern bertujuan untuk mendapatkan sumber yang memiliki tingkat validitas atau keakuratan yang tinggi. Dengan kata lain kritik intern bertujuan untuk menetapkan apakah kesaksian suatu sumber kredibel atau tidak. Dalam hubungannya dengan kritik intern ini, Louis Gottschalk kembali mengemukakan sebagai berikut:
Setelah menetapkan sebuah teks otentik dan menemukan apa yang sungguh-sungguh hendak dikatakan oleh pengarang, maka sejarawan baru menetapkan apa yang menjadi kesaksian saksi. Ia masih harus menetapkan apakah kesaksian itu kredibel, dan jika memang demikian, sejauh mana. Itu merupakan masalah kritik intern.
Dari penjelasan Gottschalk di atas, dapatlah dipahami bahwa masalah penulisan sejarah tidak mudah sebagaimana yang kita bayangkan. Sebab setelah fakta-fakta terkumpul, maka seorang penulis tidak langsung melakukan kegiatan menulis, tetapi harus terlebih dahulu melakukan kritik dengan cara menyaring atau menyeleksi setiap sumber sejarah yang telah terkumpul guna mendapatkan fakta-fakta sejati yang harus dipenuhi oleh seorang peneliti sejarah.
3. Penafsiran (Interpretasi)
Data yang telah diuji keabsahannya, kemudian diinterpretasi atau ditafsirkan seobyektif mungkin dengan tidak meninggalkan kaidah-kaidah ilmiah. Tujuannya adalah memberikan informasi tentang data yang ada, hubungan antara fakta-fakta, sehingga dapat ditampilkan data atau fakta sejarah yang akurat serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Dalam tahapan ini dibutuhkan pengetahuan yang luas dari seorang penulis/peneliti, baik pengetahuan dalam ilmu sejarah maupun pengetahuan dalam disiplin ilmu lainnya, agar dapat memberikan interpretasi yang tepat terhadap fakta yang terdapat dalam sumber sejarah.
4. Penulisan Sejarah atau Historiografi
Tahap akhir dari penelitian dengan metode historis ini adalah penulisan sejarah atau historiografi. Menurut Taufik Abdullah bahwa penulisan adalah puncak segala-galanya. Sebab apa yang ditulisakan itulah sejarah yaitu histoire recite, sejarah sebagaimana ia dikisahkan, yang mencoba menangkap dan memahami histoire-realite, sejarah sebagaimana terjadinya.
Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan adalah penyusunan fakta-fakta sejarah guna dipaparkan dalam bentuk kisah sejarah.
Kepustakaan:
Abdullah, Taufik dan Abdurrahman Surjomehardjo, 1985. Ilmu Sejarah dan Historiografi. Jakarta: Gramedia.
Gottschalk, Louis, 1985. Mengerti Sejarah. Jakarta: UI Press.
Notosusanto, Nugroho. 1978. Norma-norma Penelitian dan Penulisan Sejarah. Jakarta: Dep. HANKAM Pusat ABRI.
Artikel Terkait dengan Sejarah
•  Peranan Pers dalam Pergerakan Nasional Indonesia
•  Perjuangan Melalui Volksraad
•  Sifat dan Strategi Perjuangan Organisasi Pergerakan Nasional pada Periode Bertahan
•  Tindakan Pemerintah Hindia Belanda Terhadap Organisasi Pergerakan Radikal
•  Serangan Jepang terhadap Pearl Harbour
•  Sikap Kaum Pergerakan Menghadapi Kedatangan Jepang
•  Periode Radikal Pergerakan Nasional Indonesia
•  Faktor Ekstern Timbulnya Pergerakan Nasional Indonesia
•  Faktor Intern Timbulnya Pergerakan Nasional Indonesia
•  Politik Luar Negeri Jepang Setelah Kegagalan Ekspansinya ke Cina
•  Ekspansi Jepang Ke Cina
•  Latar Belakang Imperialisme Jepang
•  Sejarah Terbentuknya Angkatan Perang Republik Indonesia
•  Aktivitas Politik Tan Malaka Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
•  Biografi Singkat Tan Malaka
•  Reinterpretasi Peristiwa Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan
•  November Belofte (1918)
•  Wayang Kulit Sebagai Media Penyebaran Islam
•  Pengaruh Pan Islamisme Terhadap Pergerakan Nasional Indonesia
•  Pan Islamisme

Poskan Komentar