Faktor Intern Timbulnya Pergerakan Nasional Indonesia

Bagi negara-negara di Asia dan Afrika, abad ke-20 merupakan abad nasionalisme, yaitu suatu kurun waktu yang ditandai dengan pertumbuhan kesadaran sebagai suatu bangsa serta gerakan nasionalis untuk memperjuangkan kemerdekaannya. Tak terkecuali di Indonesia, awal abad ke-20 kebangkitan nasionalisme mulai muncul yang dimanifestasikan dalam bentuk pergerakan nasional.
Proses kebangkitan pergerakan nasional Indonesia dipengaruhi atau dipercepat oleh beberapa faktor, baik faktor dari dalam (intern) maupun faktor dari luar (ekstern). Faktor intern timbulnya pergerakan nasional Indonesia sebagai berikut:
a. Penderitaan rakyat Indonesia akibat penjajahan Belanda
secara ekonomi, Belanda mulai berkuasa di Indonesia sejak tahun 1602 dengan didirikannya VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Dengan sistem monopoli perdagangan, Belanda mengeruk kekayaan Indonesia untuk kemudia dipergunakan membangun negaranya yang miskin. Ketika VOC dibubarkan dalam tahun 1799, telah meninggalkan penderitaan bagi rakyat Indonesia dalam lapangan ekonomi.
Penderitaan dan kesengsaraan rakyat semakin meningkat dengan diberlakukannya Cultuur Stelsel (Sistem Tanam Paksa) pada tahun 1833 hingga rahun 1870. Tak terhitung banyaknya korban akibat sistem ini. Dihapuskannya Cultuur Stelsel pada tahun 1870 tidak mengurangi penderitaan rakyat Indonesia. Politik Drainase (mengeruk kekayaan sebesar-besarnya) yang diberlakukan sejak tahun 1870 justru semakin menyengsarakan rakyat.
Memasuki abad ke-20 meskipun terlihat kemajuan dalam bidang pendidikan akibat diterapkannya Politik Etis, namun sebenarnya tidaklah mengurangi beban penderitaan rakyat. Golongan cendekiawan dan terpelajar yang menyadari hal ini, lalu mengupayakan cara untuk segera mengakhiri penjajahan Belanda di Indonesia. Belajar dari kegagalan perlawanan masa lampau, mereka kemudian memikirkan untuk melakukan perjuangan secara terpadu, tidak hanya bertumpu pada kharisma pemimpin, dan ditempuh dengan cara yang lebih modern, yakni melalui organisasi pergerakan nasional.
b. Timbulnya lapisan sosial baru dalam masyarakat
Pada akhir abad ke-19, Belanda mulai menjalankan politik pintu terbuka (Open deur Politiek) di wilayah jajahannya. Kebijakan yang dilatari oleh tuntutan kaum humanis dan golongan liberal yang berkuasa di negeri Belanda ini, bermakna bahwa di Hindia Belanda telah terjadi perubahan imperialisme, dari imperialisme kuno ke imperialisme modern.
Politik kolonial yang kurang memperhatikan kesejahteraan rakyat mengundang berbagai kritik, terutama dari van Deventer. Karangannya yang berjudul “Een Eerschuld” (Debt of Honour atau Suatu Hutang Budi) kemudian menjadi landasan pelaksanaan Etische Politiek (Politik Etis). Salah satu realisasi dari Politik Etis ini adalah didirikannya sekolah-sekolah di Indonesia. Sekolah yang pertama bernama Klerken School yang khusus disediakan untuk calon-calon pegawai Belanda dan kaum modal asing.1)
Imperialisme modern yang dijalankan oleh Belanda ini menyebabkan munculnya suatu lapisan baru dalam masyarakat Indonesia, yaitu golongan terpelajar (cendekiawan), para pegawai pemerintah Belanda, dan para pedagang atau pengusaha tingkat menengah. Ketiga golongan baru ini merupakan lapisan menengah (middle class) dalam stratifikasi masyarakat kolonial. Lapisan bawah adalah para petani, pedagang kecil, dan pegawai rendahan yang merupakan bagian terbesar dari rakyat Indonesia yang umumnya hidup melarat. Sedangkan lapisan atas dimonopoli oleh bangsa kulit putih (Belanda).
Dari lapisan sosial baru inilah muncul pemimpin-pemimpin rakyat yang menjadi pelopor perjuangan dalam bentuk pergerakan nasional. Misalnya golonga terpelajar mendirikan organisasi Budi Utomo di Indonesia dan Indische Vereeniging di Belanda pada tahun 1908. Golongan pedagang mendirikan SDI (Sarekat Dagang Islam) pada tahun 1905. Dan para pegawai Hindia Belanda membentuk PPPB (Persatuan Pegawai Pegadaian Bumi Putera) dalam tahun 1914.2) Ketiga golongan ini, terutama golongan terpelajar memainkan peran yang sangat besar dalam dekade awal pertumbuhan pergerakan nasional.
c. Undang-undang Desentralisasi
Pada tahun-tahun permulaan abad ke-20, pasifikasi terhadap daerah-daerah di luar Jawa telah berakhir, sehingga terwujud Pax Neerlandica, yakni suatu wilayah jajahan yang luas dan dikuasai oleh Belanda secara aman dan terkendali. Keadaan ini diikuti pula dengan perkembangan ekonomi yang pesat dan perluasan jabatan-jabatan pemerintah kolonial secara besar-besaran di Indonesia.
Penguasaan terhadap daerah yang amat luas itu tidak mungkin lagi dapat diselenggarakan secara baik oleh pemerintah pusat di Batavia. Untuk mengatasinya dikeluarkanlah Undang-undang Desentralisasi 1903 yang antaranya berisi tentang pembentukan kotapraja (gemeente atau haminte) dan dewan-dewan kotapraja. Kebijakan ini memperkenalkan rakyat Indonesia akan tata cara demokrasi yang modern.3)
Dengan adanya Undang-undang Desentralisasi tersebut pemerintah mulai memberikan otonomi yang lebih banyak kepada pemerintah daerah dan mendirikan badan-badan perwakilan rakyat. Orang-orang Indonesia juga diberi kesempatan untuk duduk dalam Dewan Perwakilan Rakyat Lokal bersama-sama dengan orang-orang kulit putih dan ikut serta dalam pemerintahan daerah meskipun dengan hak-hak yang terbatas.
Sebenarnya UU tersebut hanya mewujudkan demokratisasi dalam arti minimal. Dewan-dewan daerah tidak mampu mencapai rakyat, karena anggotanya meyoritas orang-orang kulit putih seperti yang dikutip oleh Sartono Kartodirdjo bahwa Dewan Haminte Batavia terdiri atas 15 orang Eropa, 7 orang pribumi, dan 3 orang timur asing.4)
Meskipun demikian, kesempatan tersebut dipergunakan sebaik-baiknya oleh bangsa Indonesia. Keterlibatan mereka dalam pemerintah daerah memberi pengalaman berharga dalam bidang politik serta menimbulkan harga diri sebagai bangsa yang sederajat dengan bangsa kulit putih. Hal ini kemudian menjadi salah satu faktor pendorong timbulnya pergerakan nasional.
d. Aksi golongan peranakan
Golongan peranakan atau golongan Indo merupakan golongan tersendiri dalam struktur masyarakat kolonial yang terjadi akibat perkawinan campuran antara Belanda dengan wanita pribumi yang biasanya berstatus sebagai gundik.
Secara formal golongan Indo masuk status Eropa dan mereka cenderung untuk mengidentifikasikan diri sebagai bangsa kulit putih sehingga menjauhkan dirinya dari lapisan masyarakat pribumi. Umumnya mereka bekerja dalam kemiliteran, pegawai menengah pada instansi-instansi pemerintah atau perusahaan swasta asing. Namun di kalagan Belanda sendiri ada diskriminasi antara totok dan Indo, yang tidak semata-mata berdasarkan kemurnian darah tapi juga karena perbedaan status sosialnya.5)
Perbedaan perlakuan oleh penjajah Belanda menimbulkan perasaan tidak puas sehingga mendorong timbulnya rasa persatuan untuk memperbaiki basib. Aksi golongan peranakan ini turut pula memengaruhi kebangkitan pergerakan nasional Indonesia.
Daftar Referensi:
1)  Dra. S.K. Trimurti. 1980. Hubungan Pergerakan Buruh Indonesia dengan Pergerakan 
     Kemerdekaan Nasional. Jakarta: yayasan Idayu, hal. 8
2)  Ibid., hal. 10
3)  Drs. G. Moedjanto, MA. 1992. Indonesia Abad ke-20 Jilid I. Yogyakarta: Kanisius, hal. 26
4)  Sartono Kartodirdjo. 1990. Sejarah Pergerakan Nasional. Jakarta: Gramedia, hal. 44
5)  Ibid., hal. 97
Artikel Terkait dengan Sejarah
•  Pengaruh Buku Ikki Kita Terhadap Ekspansi Militer Jepang
•  Code Napoleon
•  Asas dan Bentuk Perjuangan Organisasi Perhimpunan Indonesia
•  Pengaruh Sumpah Pemuda terhadap Pergerakan Nasional Indonesia
•  Sejarah Singkat Sumpah Pemuda
•  Proses Terbentuknya PPKI
•  Latar Belakang Rasionalisasi dan Reorganisasi Angkatan Perang RI
•  Dari Manakah Asal Agama Islam Masuk ke Nusantara?
•  Islam Masuk ke Indonesia pada Abad ke-7 – 8 Masehi
•  Als ik eens Nederlander was (Andaikata Aku Seorang Belanda)
•  Dampak Positif dan Negatif Pendudukan Jepang di Indonesia
•  Peranan KTN dalam Penyelesaian Sengketa Indonesia Belanda
•  Alasan RI Menerima Persetujuan Linggarjati
•  Latar Belakang Persetujuan Linggarjati
•  Lahirnya Demokrasi Terpimpin
•  Sejarah Singkat Perguruan Taman Siswa
•  Perkembangan Pers di Indonesia Hingga Terbentuknya Pers Nasional
•  Peranan Pers dalam Pergerakan Nasional Indonesia
•  Perjuangan Melalui Volksraad
•  Sifat dan Strategi Perjuangan Organisasi Pergerakan Nasional pada Periode Bertahan
Yousake NKRI mengatakan...

wah bagus nih artikelnya, ditunggu artikel barunya ... ^_^

#comment back ya hihiihihih :)

Anonim mengatakan...

aku........ sgt menyukai ini sma,,,,,,,,,@@@@@@@@@

fitriah raudhatul jannah mengatakan...

thank's udh ngasih tau sgt membantu buat belajar

F.B.Adhitya mengatakan...

thank's

Poskan Komentar