Perlawanan Islam terhadap Kolonialisme Belanda

A.  Latar Belakang
Kedatangan bangsa Eropa membawa perubahan terhadap gerak kehidupan di Nusantara. Monopoli perdagangan, dominasi politik dan usaha-usaha merusak nilai luhur Islam yang dimiliki oleh kerajaan pada masa itu. Timbul perlawanan dari kerajaan Islam dengan dorongan agama Islam sebagai dasar perjuangan.
Agama Islam pada mulanya dipakai untuk memperkuat diri dalam menghadapi pihak-pihak atau kerajaan-kerajaan yang bukan Islam, terutama yang mengancam kehidupan politik atau ekonomi. Hal ini dapat dilihat pada persekutuan kerajaan-kerajaan Islam dalam menghadapi Portugis, Kompeni Belanda, dan kekuatan-kekuatan yang berusaha memonopoli pelayaran dan perdagangan yang dapat merugikan kerajaan-kerajaan Islam itu.1)
VOC menerapkan sistem monopoli perdagangan dalam upaya menguasai Nusantara. Pada masa kekuasaan VOC, tercatat beberapa perlawanan dari kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, seperti Aceh, Gowa, Mataram, Banten, perlawanan Trunojoyo dan perlawanan Untung Surapati.
Hamka membagi perlawanan tersebut dalam dua aliran Islam, yakni aliran pesisir dan aliran pedalaman.
“Aliran pedalaman yang menerima Islam sebagai agama dan mencukupi Allah sebagai Tuhan, tetapi lebih mementingkan tafakkur dan mencari persesuaian dengan yang lama…. Jihad melawan nafsu lebih dipentingkan daripada melawan musuh dari luar. Aliran pesisir menerima agama Islam dengan dasar ajaran tauhidnya, beramal menurut faham ahli sunnah wal-jamaah, merebut dunia untuk menundukkan kepala untuk kepentingan akhirat …. tidak ada tempat untuk menundukkan kepala kecuali kepada Allah.”2)
B.  Perlawanan Islam di Kerajaan Gowa
Perubahan agama yang cepat dari kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan, terutama di Gowa, adalah akibat perkenalan yang luas pelaut Bugis Makassar dengan orang-orang Islam di pelabuhan pantai Jawa dan Sumatera. Barbara S. Harvey mengemukakan bahwa kontak pertama kerajaan Gowa dengan orang-orang Portugis dan VOC terjadi sekitar waktu yang sama diperkirakan telah meningkatkan minat terhadap Islam sebagai satu sumber kekuatan spiritual untuk memperkuat kerajaan dalam menghadapi ancaman orang-orang asing yang agresif.3)
Perlawanan rakyat Gowa terhadap VOC sebagai perjuangan yang dilandasi nilai jihad Islam dapat dilihat dari jawaban Sultan Alauddin ketika VOC mendesak supaya Sultan melarang pedagang Makassar berdagang di Maluku.
“Tuhan Yang Maha Esa telah menciptakan bumi dan lautan, bumi telah dibagikan di antara manusia, tetapi lautan diberikan untuk umum, belum pernah kami dengar bahwa pelayaran di lautan terlarang bagi seseorang. Jika Belanda melakukan larangan, maka itu berarti bahwa Belanda seolah mengambil nasi dari mulut orang lain."4)
Hal yang sama juga terlihat ketika Sultan Hasanuddin menjawab tuntutan VOC untuk tunduk kepada segala keputusan Belanda.
“Tuntutan Tuan itu amat bertentangan dengan kehendak Allah. Allah mengadakan dunia ini supaya sekalian manusia sama bahagia. Ataukah Tuan menyangka bahwa Allah mengecualikan pulau-pulau yang jauh dari tempat bangsa tuan untuk perdagangan tuan?”5)
C.  Perlawanan Islam di Kerajaan Banten
Sementara itu perlawanan rakyat Banten di bawah Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1692), masyarakatnya dibekali dengan nilai-nilai religius Islam.
“Untuk memperkuat jiwa menghadapi jihad melawan musuh, Baginda telah mendatangkan ulama-ulama besar baik dari Tanah Aceh atau dari Tanah Arab, di antarana adalah ulama dari Makassaar Syeh Yusuf yang kemudian menjadi menantunya. … Jangan merasa takut menghadapi maut dan bentangkanlah dada menghadapi musuh karena lari adalah suatu kehinaan.”6)
Kejatuhan Malaka menimbulkan hubungan yang erat antara Banten dengan daerah lain, terutama dalam proses islamisasi daerah, serta yang erat hubungannya dengan itu ialah perlawanan terhadap penetrasi bangsa Barat yang dibarengi dengan Kristenisasi.
Di Banten sudah dilancarkan gerakan revitalisasi di bawah pimpinan Syeh Yusuf. Minuman keras dan candu diberantas, orang-orang disuruh mengenakan jubah gaya tanah suci. Semangat religius ini memperkuat moral masyarakat Banten yang sepenuhnya menyadari bahwa setelah Makassar jatuh ke tangan VOC, Banten akan segera menjadi sasaran agresinya.7)
Dalam rangka perlawanan segi tiga antara Mataram-VOC-Banten, Banten melakukan persaingan yang gigih dan berhasil menembus monopoli VOC. Banyaknya pengungsi yang tertampung di Banten dari pesisir Jawa dan Makassar, memungkinkan berkembangnya pusat gerakan menentang Belanda yang diperkuat oleh semangat perang melawan kafir.
D.  Perjuangan Islam di Kerajaan-kerajaan Lainnya di Nusantara
Sultan Iskandar Muda (1607-1636) yang dalam tradisi Aceh juga disebut Mahrun Mahkota Alam, melanjutkan politik ekspansi raja-raja sebelumnya. Menurut Bustanulsalatin, “Dia yang mengembangkan kehidupan beragama, memberantas minuman (minuman keras) main judi, menjalankan peraturan agama, bersama-sama rakyat bershalat di masjid, dan memberi sedekah kepada fakir miskin.”8)
Rakyat Aceh dalam menegakkan eksistensinya terhadap praktek imperialisme Belanda, berjuang dengan sendi-sendi kehidupan rakyat Aceh, yaitu Adat bersendi syarah, syarah bersendi kitabullah.
Gerakan Trunojoyo juga bersifat religius, yaitu suatu gerakan anti kafir serta melawan Mataram yang telah bersekutu dengan kompeni. Ideologi religius ini cukup efektif, terutama untuk manarik dukungan dari kekuatan politik seperti Banten, wangsa Kajoran dan Penembahan Giri.”9)
Demikian juga perjuangan Karaeng Galesong, Karaeng Bontomarannu serta perlawanan Untung Surapati, semua berjuang di bawah panji Islam. Suatu hipotesa yang diutarakan, antara lain oleh de Graaf ialah bahwa pihak yang melawan VOC dapat bersatu sebagai partai interetnik karena dijiwai oleh suatu ide Pan-Islamisme.
Daftar Referensi:
1)   Drs. CST. Kansil dan Drs. Yulianto. Sejarah Perjuangan Pergerakan Indonesia. Jakarta:
      Erlangga, hal. 11
2)   Prof. Dr. Hamka, 1975. Sejarah Umat Manusia. Jakarta: Bulan Bintang, hal 271-272
3)   Barbara Sillars Harvey, 1989. Pemberontakan Kahar Muzakkar. Jakarta: Pustaka Utama
     Grafitti, hal. 41
4)   Drs. Sarita Pawiloy, 1987. Sejarah Perjuangan Angkatan 45 di Sulawesi Selatan. Dewan
      Harian Angkatan 45 Masa Bakti 1985-1989, Ujung Pandang
5)   Prof. Dr. Hamka, Op.cit, hal, 297
6)   Ibid, hal. 301-302
7)   Sartono Kartodirdjo, 2987. Pengantar Sejarah Indonesia Baru, Jilid 1. Jakarta: Gramedia, hal.
      174
8)   Ibid, hal. 85
9)   Ibid, hal. 195
Artikel Terkait dengan Sejarah
•  Korte Verklaring (Perjanjian Pendek)
•  Peranan Pemuda dalam Sejarah Perjuangan Bangsa
•  Asas dan Bentuk Perjuangan Organisasi Perhimpunan Indonesia
•  Pengaruh Sumpah Pemuda terhadap Pergerakan Nasional Indonesia
•  Sejarah Singkat Sumpah Pemuda
•  Proses Terbentuknya PPKI
•  Pengertian Renaissance
•  Proses Rasionalisasi dan Reorganisasi Angkatan Perang RI
•  Latar Belakang Rasionalisasi dan Reorganisasi Angkatan Perang RI
•  Akibat Praktek Kolonial Daendels dan Raffles
•  Praktek Kolonial Daendels dan Raffles
•  Als ik eens Nederlander was (Andaikata Aku Seorang Belanda)
•  Dampak Positif dan Negatif Pendudukan Jepang di Indonesia
•  Peranan KTN dalam Penyelesaian Sengketa Indonesia Belanda
•  Alasan RI Menerima Persetujuan Linggarjati
•  Latar Belakang Persetujuan Linggarjati
•  Lahirnya Demokrasi Terpimpin
•  Sejarah Singkat Perguruan Taman Siswa
•  Pengertian Humanisme
•  Pengertian Sejarah

Poskan Komentar