Peran Guru Sebagai Pembangun Insan Cendekia

Dalam pengertian yang sederhana, guru adalah orang yang memberikan pengetahuan kepada anak didik, yang melaksanakan pendidikan bukan hanya di lembaga pendidikan formal, tapi juga di masjid, di surau, di rumah, dan di tempat lainnya. Mereka mungkin disebut pak atau bu guru, dosen, kyai, uztad, tuan guru, dan sebagainya.
Guru menempati kedudukan yang cukup terhormat dalam masyarakat, karena kewibawaan dan figurnya sebagai sosok yang dapat ditiru dan digugu. Di Malaysia profesi guru dipandang sebagai pekerjaan yang sangat mulia, sehingga masyarakat memberikan penghargaan yang cukup tinggi kepada guru yang mereka sebut dengan panggilan Tuan Guru.
Guru dihormati lantaran masyarakat menyakini bahwa guru dapat mendidik anak mereka menjadi orang yang memiliki kepribadian baik. Karena itu, guru harus menjadi sosok yang ditiru dan digugu. Artinya ucapan guru akan dipatuhi, dan tingkah lakunya akan diikuti oleh anak didiknya. Tak heran bila ada peribahasa yang menyatakan guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Begitu pentingnya peran guru bagi murid-muridnya dan juga masyarakat pada umumnya.
Dulu, guru dengan senang hati menerima gelar yang dilekatkan kepadanya, yakni 'pahlawan tanpa tanda jasa'. Tapi akhirnya disadari bahwa julukan tersebut hanya menghibur guru yang telah mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk membangun pendidikan anak bangsa, namun di sisi lain kadang tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarganya, karena minimnya gaji guru. Seiring proses modernisasi dan industrialisasi, dengan sendirinya menuntut kaum guru untuk memperoleh kehidupan ekonomi yang lebih baik. Guru tidak lagi ingin disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, tapi sebagai pahlawan, pembangun insan cendekia.
Aspirasi dan paradigma guru yang berkembang dewasa ini bukan tidak berdasar. Dapat kita saksikan, bahwa dengan segala keterbatasannya,  guru mampu muncul sebagai pembuka jalan, pemecah masalah, dan agen pembangunan di tengah masyarakatnya. Guru mampu menjalankan peran sebagai problem solver bukan hanya dalam proses pembelajaran, tapi juga dalam pembangunan masyarakat.
Mungkin masih segar dalam ingatan kita cerita yang ditulis oleh novelis Andrea Hirata, Sang Pemimpi, yang menggambarkan bagaimana seorang guru dengan penuh semangat membangun mimpi-mimpi untuk diwujudkan oleh murid-muridnya. Cita-cita Arai, si anak desa, lahir dan terwujud berkat dorongan semangat yang demikian menggebu-gebu dari guru SMA yang setiap hari memberikan mimpi-mimpi indah kepada muridnya.
Novel "Sang Pemimpi" dan tokoh-tokoh di dalamnya boleh jadi cuma cerita fiktif belaka. Namun kenyataannya tidak sedikit peserta didik yang mendapat "sentuhan" guru, dapat berkembang dengan baik, berprestasi, dan kemudian sukses menjadi "orang besar" bukan karena kekuatan uang, melainkan karena kemampuan dan prestasi yang dimiliki.
Sayangnya, keajaiban-keajaiban tersebut kurang terangkat dan dieksplorasi. Justru yang sering dilangsir oleh media massa maupun pembicaraan tentang guru adalah hal-hal yang negatif, seperti keluh kesah, ketidakmampuan, ketidakberdayaan, dan sejenisnya yang menumbuhkan citra guru identik dengan ketidakmapanan.
Namun, kini profesi guru telah mendapatkan perhatian dari pemerintah, bukan hanya dari aspek peningkatan kompetensi dan profesionalisme, tapi juga pemenuhan kesejahteraan. Hal ini terwujud ketika pada tahun anggaran 2009, pemerintah akhirnya memenuhi amanat Undang-Undang Dasar 1945, yaitu dengan mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari total jumlah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Kendati demikian, tantangan guru ke depan semakin besar. Guru sebagai pembangun insan cendekia harus mampu mempersiapkan anak didik menghadapi era globalisasi,  era pasar bebas yang semakin kompetitif dan membutuhkan skill yang memadai. Berhasil tidaknya guru melaksanakan tugas dan tanggung jawab tersebut menentukan nasib anak bangsa ke depan.
Engkau patriot pahlawan bangsa,
Pembangun insan cendekia….
------- Tuan Guru -------
Artikel Terkait
  Evaluasi Bukan untuk Menghakimi siswa
  Masih Perlukah Diadakan Rapat Kenaikan Kelas?
  Kapan Guru Menjadi "Guru Dewasa"?
  Guru Tidak Bermutu adalah Penikmat Kezaliman
  Sekolah "Palsu" Pembuat "Ijazah Palsu"
  Majas + Bisa = Majas Berbisa
  Kisah Gagal Para Calon Anggota Legislatif 2009
  Sejarah Tahun Baru Masehi; Renungan Bagi Umat Islam
  Renungan; Jika Ingin Sehat Harus Punya Banyak Uang
  Persoalan Etika Moral dalam Perspektif Islam
  Peran Guru Sebagai Pembangun Insan Cendekia
  Ucapan "Alhamdulillah" yang Menyakitkan Hati
  Profil "Artis Langit"
  Pertanyaan di Hari Kiamat
  Fakir adalah Orang Paling Kaya

Poskan Komentar