Ajaran Guru Sufi; Ibnu Sina

Ibnu Sina (980-1037) dilahirkan di Afsanah, Bukhara, Transoxiana (Persia Utara). Dia mengajar kedokteran dan filsafat di Isfahan, kemudian tinggal di Teheran. Dia menjadi seorang penulis besar dan paling orisinil. Di samping karya-karya lain, dia menulis sebuah risalah tentang doktrin sufismenya yang disebut al-Isyarat wat-Tanbihat, sebuah doktrin yang didasarkan pada kesatuan semua makhluk. Dia juga menulis "Kasidah tentang Jiwa", dimana dia menjelaskan bahwa dirinya hanyalah seorang "tawanan" di dunia ini. Berikut ajaran spiritual sang guru sufi Ibnu Sina:
Keindahan Tuhan ditunjukkan oleh wajah-Nya dan rahmat-Nya yang Dia limpahkan. Keindahan-Nya melampaui semua keindahan lain, tetapi ia adalah selubung keindahan-Nya, dan dari wujud luar terhubung dengan kenyataan terdalam. Sehingga pengungkapan keagungan-Nya berhubungan dengan penyembunyian-Nya, seperti matahari, jika cahayanya terselubung, ia terpancar lebih terang, dan ketika ia terbuka dalam cahayanya, ia tersaput sendiri oleh cahayanya yang berkilauan. Tetapi Sang Raja mewujudkan keagungan-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya dan tidak menyembunyikan dari mereka hak untuk bertemu dengan-Nya, tetapi mereka hanya dapat mendekati-Nya sesuai kadar kemampuannya.
Doa sejati yang paling tinggi adalah perenungan Tuhan dengan kalbu yang murni yang terlepas dari hasrat keduniawian, tidak terpaku dengan sikap-sikap jasmaniah, melainkan dengan gerak-gerik jiwa. Jiwa semacam ini memohon kepada Dzat Yang Maha Tinggi untuk kesempurnaannya sendiri, melalui perenungan kepada-Nya, dan untuk kebahagiaannya yang tertinggi melalui pengetahuan segera tentang Dia. Di atas jiwa ini kemuliaan Ilahi terpancar, ketika hamba sedang berdoa.
Ada tahap dan tingkatan dalam kehidupan renungan, kepadanya kaum sufi berupaya mencapainya di dunia ini. Langkah pertama kaum sufi disebut kehendak, yang berarti kepastian menuju Jalan Kebenaran. Melalui ini kehendak sang sufi mendisiplinkan jiwa, melalui keyakinannya, yang akan mengarahkannya menuju Tuhan, sehingga dia dapatkan kebahagiaan dalam penyatuan. Tahap kedua adalah tahap disiplin diri, yang diarahkan menuju pada kemampuan membuang segala sesuatu kecuali Tuhan, menundukkan jiwa jasmaniahnya, dan membuaat kesadarannya dipenuhi nasihat. Tahap ketiga, membebaskan jiwanya dari hawa nafsu.
Sekarang tampak kilatan cahaya Ilahi, seperti kilauan sinar yang mengambang, yang melintas. Pada tahap keempat, mistikus melihat Tuhan dalam segala hal, dan kemudian pada tahap kelima dia menjadi terbiasa dengan kehadiran Tuhan. Kilatan-kilatan singkat cahaya menjadi sebuah nyala yang bersinar, dan dia mendapat pengetahuan Tuhan secara langsung dan terus menerus berada dalam keintiman dengan-Nya.
Kemudian sang sufi melintasi tahap perenungan Tuhan dalam Diri-Nya: Dia tidak ada, tetapi ada, dia berangkat tetapi berdiam. Kemudian dia berpaling ke alam hakikat dan perenungannya pada Tuhan. Jiwa terdalamnya menjadi sebuah cermin mengkilap yang merefleksikan Wajah Tuhan. Kemudian dia menanggalkan dirinya dan hanya merenungkan Keagungan Ilahi. Jika ia memandang dirinya sendiri, ia mendapati seseorang yang sedang merenung, dan ketika dia telah sampai pada tahap ini, dia telah meraih kesempurnaan kemanunggalan bersama Tuhan.

Poskan Komentar