Ajaran Guru Sufi; Abu Sa'id bin Abu al-Khair

Abu Sa'id bin Abu al-Khair dilahirkan di Mayhana, Khurasan. Awalnya dia belajar tentang doktrin-doktrin sufisme dan kemudian menjadi seorang sufi dan dikenal sebagai penulis kwatren mistis dan dalam puisi mistisnya beliau mengajarkan doktrin tentang negasi (peniadaan) diri sebagai jalan menuju Tuhan. Beliau adalah seorang guru besar sufisme dan mungkin sufi pertama yang memakai bahasa penuh perumpamaan untuk mengungkapkan kepercayaan-kepercayaannya. Berikut nukilan beberapa pesan spiritualnya :
Jika manusia ingin mendekati Tuhan, mereka harus mencari-Nya dalam kalbu. Mereka hendaknya berbicara dengan baik kepada semua orang, apakah ia ada atau tidak, dan jika mereka hendak menjadi pelita untuk membimbing yang lain, maka seperti matahari, mereka harus menunjukkan wajah yang sama kepada sesama. Membawa keceriaan kepada sebuah kalbu lebih baik daripada membangun banyak pusara untuk pemuliaan. Memperbudak sebuah jiwa dengan kebaikan lebih berharga daripada membebaskan seribu budak.
Itulah insan Tuhan yang sejati, yang duduk di tengah kawan-kawannya, terjaga dan makan dan tidur dan membeli dan menjual dan memberi dan menerima, dan yang menikah dan menjalin hubungan dengan sesama, tapi tidak sesaat pun melupakan Tuhan.
Allah memasukkan ke dalam kalbu manusia rasa butuh dan hasrat kerinduan. Lalu dengan kemurahan dan kasih sayang-Nya, Dia anugerahkan cahaya ke dalam kalbu. Cahaya itu disebut pusara mistikus (sirr) Tuhan. Ia abadi dan tidak pernah hancur, karena ia senantiasa terenungkan oleh Tuhan dan menyatu dengan-Nya. Ia bebas dari semua keduniawian. Siapa pun yang memiliki pusara mistikus Tuhan akan hidup dalam kebenaran dan siapa yang tidak memilikinya, maka ia tidak lain adalah seekor binatang.
Allah Swt. telah menciptakan dua jenis api, satu untuk kehidupan dan satu untuk kematian. Api kehidupan adalah api permohonan yang Dia tempatkan ke dalam dada hamba-hamba-Nya di dunia ini, sehingga hawa nafsu mereka terhisap. Api membakar dan ketika diri terbakar, tiba-tiba api permohonan menjadi api kerinduan, dan api kerinduan tak akan pernah mati di dunia ini maupun di hari kemudian.
Hamba sejati adalah mereka yang takut pada kebesaran Tuhan dan membebaskan diri dari hawa nafsu. Sebelum engkau mengosongkan dirimu dari keakuan, kau tidak akan mampu lari darinya. Jika engkau berharap Allah akan bersemayam dalam kalbumu, jernihkanlah kalbumu dari dari segala sesuatu selain Dia, karena Raja tidak akan memasuki rumah yang penuh dengan barang-barang dan perabotan. Dia hanya akan memasuki sebuah kalbu yang kosong kecuali hanya Diri-Nya sebagai penghuninya.
Artikel Terkait dengan Guru Sufi
•  Ajaran Sufi; Raja Burung Macam Burung Juga
•  Mengenal K.H. Syamsuri Abdul Madjid dan Ajarannya
•  Mengenal H. Ismail Wajeng, Guru Sufi Abad Akhir
•  Ajaran Guru Sufi; Abu Yazid al-Busthami
•  Ajaran Guru Sufi; Ibnu 'Arabi
•  Ajaran Guru Sufi; Dzun Nun al-Mishri
•  Ajaran Guru Sufi; Hasan al-Bashri
•  Ajaran Guru Sufi; Sana'i
•  Ajaran Guru Sufi; Abu Hamid al-Ghazali
•  Ajaran Guru Sufi; Rabi’ah al-Adawiyah
•  Ajaran Guru Sufi; Ibnu Sina
•  Ajaran Guru Sufi; Syihabuddin Suhrawardi Halabi
•  Ajaran Guru Sufi; Ahmad bin Muhammad Abu al-Husain An-Nuri
•  Ajaran Guru Sufi; Abul Qasim al-Qusyairi
•  Ajaran Guru Sufi; Abdul Jabbar bin al-Husain An-Niffari

Poskan Komentar