Ramadhan = Ujian Kenaikan Kelas

Ramadhan telah tiba, bulan suci yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim, karena di dalamnya Allah menjanjikan rahmat dan ampunan yang seluas-luasnya. Pada bulan suci Ramadhan semua kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya, sehingga umat muslim berlomba-lomba berbuat kebajikan, antara lain dengan memperbanyak sedekah, membaca ayat suci Al-Quran, menunaikan shalat malam dan berbagai amalan lainnya.
Bermacam-macam orang memaknai ramadhan, sebagian besar memaknainya dengan bulan yang penuh berkah dan ampunan, sebagian memahaminya sebagai bulan suci yang harus dijaga kesuciannya dengan menghindarkan diri dari perbuatan maksiat, sebagian mengartikannya sebagai bulan turunnya Al-Quran yang di dalamnya terdapat malam lailatul qadar, sehinga memperbanyak membaca Al-Quran dan berjaga di malam hari. Para remaja menyambutnya dengan sukacita karena asyiknya tarawih dan pulang bareng, sementara siswa bergembira karena sekolah diliburkan.
Tuan Guru memaknai ramadhan sebagai ujian kenaikan kelas. Selama 11 bulan telah diajarkan materi meliputi pokok bahasan Iman dan Taqwa, dengan 2 buku wajib, yaitu Al-Quran dan Hadits, bentuk soal pilihan ganda (multiple choice) dengan 2 option, kebaikan dan keburukan, atau pahala dan dosa, atau halal dan haram. Nah, dalam bulan ini kita akan menempuh ujian praktek kenaikan kelas dengan mata ujian utama "menahan diri". Standar Kompetensinya adalah kemampuan menahan diri dari segala perkataan, sikap dan perbuatan yang dilarang oleh Kepala Sekolah (Allah SWT). Indikator keberhasilan, yaitu mampu menahan diri dari segala yang dilarang, dan mampu memperbanyak amalan yang dianjurkan. Pengawasnya terdiri dari para malaikat yang akan memeriksa dan melaporkan hasilnya kepada Sang Kepala Sekolah. Bila lulus, akan naik kelas dan diberi piagam penghargaan dengan predikat “taqwa” dan akan memasuki tahun pelajaran berikutnya dalam keadaan “fitrah”. Sebaliknya, bila tidak lulus akan mengulang di kelas yang sama atau diremedi terlebih dahulu. Namun sejak sekolah ini didirikan, paling banyak siswa yang lulus bersyarat, dengan catatan apabila selepas ramadhan tidak mampu mempertahankan prestasinya, maka diturunkan kembali pada kelas sebelumnya.
Oleh karena itu, ramadhan bukanlah tempat latihan menahan lapar dan haus, menahan hawa nafsu dan godaan, tapi hendaknya menjadi tempat mempraktikkan semua materi yang telah dipelajari. Mari kita lihat bagaimana susah payahnya orang menahan diri, beratnya mengkhatamkan Al-Quran, sulitnya bangun melaksanakan shalat lail, serta sukarnya mengikhlaskan sedekah karena selama 11 bulan tidak belajar dan berlatih sungguh-sungguh. Sementara orang yang bersungguh-sungguh dapat menempuh ujian praktek dengan mudah. Itulah murid-murid berprestasi yang seharusnya menjadi contoh bagi kita semua.
Anak-anakku, apabila kalian selama ini tidak rajin belajar karena terlalu banyak bermain dengan kesenangan dunia, maka kejarlah ketertinggalan kalian. Manfaatkan sebaik-baiknya waktu ramadhan ini untuk fokus menempuh ujian taqwa. Selamat berjuang, semoga naik kelas dan lulus dengan nilai memuaskan.
------- Tuan Guru -------

Poskan Komentar