Menyambut Tamu Istimewa di Bulan Ramadhan

Sebagian ahli sufi menjelaskan aturan perhitungan malam lailatul qadar. Di antaranya berkata, “Bila awal puasa jatuh pada malam Jumat, maka kemungkinan malam lailatul qadar pada tanggal sembilan belas. Bila awal puasa pada hari Sabtu, maka peganglah tanggal dua puluh satu. Bila awal puasa pada hari Ahad, berarti tanggal dua puluh tujuh. Bila awal puasa pada hari Senin, maka ketahuilah bahwa lailatul qadar tanggal sembilan belas. Bila awal puasa pada hari Selasa, maka peganglah tanggal dua puluh lima. Bila awalnya hari Rabu, wahai orang-orang yang mengincarnya, cari dan temui lailatul qadar pada tanggal tujuh belas. Bila hari Kamis, maka temuilah malam lailatul qadar setelah sepuluh pada malam witir.”
Pendapat mayoritas ulama mengatakan bahwa malam lailatul qadar terdapat pada malam-malam ganjil di bagian sepuluh akhir bulan Ramadhan. Sebagaimana Aisyah berkata, “Rasulullah saw. bila memasuki bagian sepuluh akhir bulan ramadhan selalu menghidupkan malam-malamnya, membangunkan istrinya, bersungguh-sungguh dan mengencangkan ikat pinggang.”
Dalam mitologi sebagian masyarakat Indonesia meyakini bahwa bila seseorang menjumpai malam lailatul qadar, maka Allah akan mengabulkan baginya tiga permintaan. Pandangan ini agaknya meragukan karena lebih mirip dengan kisah Aladin dan Lampu Ajaib, yang di dalamnya terdapat jin yang mampu mengabulkan tiga permintaan. Agar lebih hati-hati memaknai malam lailatul qadar itu sebaiknya kita merujuk pada tuntunan Rasulullan saw. sebagaimana diceriterakan Aisyah. Aisyah berkata, “Aku bertanya, ya Rasulullah bila aku menemui lailatul qadar, apa yang harus kubaca?” Nabi menjawab, “Katakanlah: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Mahamulia, serta mencintai ampunan, maka ampunilah aku.”
Dari keterangan Aisyah di atas, dapat dipahami bahwa lailatul qadar adalah malam kemuliaan dimana Allah memilih hamba-hamba-Nya untuk diangkat derajatnya pada derajat kemuliaan di sisi-Nya melalui ampunan-Nya.
Meskipun diincar oleh hampir seluruh muslim di dunia, namun Allah menyembunyikan hal ini supaya mereka bersungguh-sungguh dalam beribadah pada malam-malam di bulan Ramadhan dengan harapan dapat menjumpai malam lailatul qadar sebagaimana Allah menyembunyikan shalat al-wustha di antara shalat lima waktu, menyembunyikan Asma-Nya Yang Agung di dalam Al Quran di antara Asma’ul Husna. Dan menyembunyikan keridhaan-Nya dalam semua ketaatan, supaya mereka menyukai semuanya. Menyembunyikan datangnya kiamat, supaya mereka bersungguh menjalankan ketaatan, karena khawatir dengan datangnya.
Di antara tanda datangnya malam lailatul qadar sebagaimana yang diriwayatkan dari Hasan, “Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas dan tidak dingin. Pagi hari matahari terbit berwarna putih tanpa sinar.”
Karena lailatul qadar merupakan malam yang istimewa tentu diperlukan persiapan dalam penyambutannya. Menyambut kedatangan gubernur atau menteri saja dibutuhkan persiapan sampai satu bulan lamanya, tentu tak berlebihan apabila menyambut lailatul qadar ini perlu persiapan selama sebelas bulan (sebelum bulan Ramadhan). Dalam sebelas bulan semua aspek yang dibutuhkan seharusnya sudah diadakan, meliputi ibadah lahiriah dan batiniah. Persiapan yang lama dan mantap tentu lebih baik dibanding persiapan yang kesannya dadakan, apalagi yang akan datang berkunjung adalah tamu istimewa (lailatul qadar)
Fenomena yang terjadi bahwa pada sepuluh malam terakhir, masjid-masjid mulai terlihat semarak dengan ibadah dzikir, shalat tasbih dan lain-lain sambil i’tikaf. Sebagian masjid tetap ramai hingga akhir ramadhan, sebagian lagi hanya semarak pada malam-malam ganjil, sedangkan pada malam genap sunyi senyap karena jamaahnya mengambil waktu untuk istirahat dengan pertimbangan sang tamu istimewa tidak akan tiba pada malam genap sebagaimana jadwal yang dipahami.
Pesan Tuan Guru, “Anak-anakku, bila kalian ingin berjumpa dengan lailatul qadar, persiapkanlah dirimu sebaik-baiknya sejauh yang engkau mampu. Lakukan semua ibadah yang disukai oleh tamu istimewa-mu itu, lalu undanglah dia melalui doa, dan tunggulah pada malam-malam sunyi di bulan Ramadhan. Pahamilah, semoga kalian beruntung!
------- Tuan Guru -------

Poskan Komentar