Pemanfaatan Tutor Sebaya dalam Remedial untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa

A. Pendahuluan
Salah satu indikator keberhasilan proses belajar mengajar yang dilaksanakan adalah tercapainya standar ketuntasan belajar minimal yang telah ditentukan sebelumnya. Kesungguhan guru untuk mencapai standar ketuntasan belajar minimal akan memacu guru untuk meningkatkan prestasi belajar secara optimal. Bagi siswa yang belum mencapai standar ketuntasan belajar minimal dapat mengikuti remedial sampai mencapai ketuntasan. Namun yang terjadi di lapangan, sebagian guru malas untuk melakukan pengajaran remedial karena akan menghabiskan waktu dan tenaga tambahan dalam melaksanakannya.
Pengajaran remedial bagi siswa yang belum mencapai standar ketuntasan belajar minimal dipandang sebagai salah satu upaya untuk memacu dan membantu siswa mencapai standar ketuntasan yang diharapkan. Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bersama oleh para pendidik, diantaranya penerapan model yang efektif dalam pelaksanaan remedial.
Di antara model remedial yang dapat dilaksanakan adalah model tutor sebaya. Model ini oleh sebagian pakar dan pemerhati pendidikan sangat erat kaitannya dengan psikologis peserta didik terutama dalam hal motivasi belajar.
B. Tutor Sebaya
Tutor Sebaya dikenal dengan pembelajaran teman sebaya atau antar peserta didik, hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu peserta didik lain yang kurang mampu. Alternatifnya, waktu khusus tiap harinya harus dialokasikan agar peserta didik saling membantu dalam belajar baik satu-satu atau dalam kelompok kecil.
Menurut Winarno Surakhmad (1994: 53), tutor sebaya merupakan salah satu strategi pembelajaran untuk membantu memenuhi kebutuhan peserta didik. Ini merupakan pendekatan kooperatif bukan kompetitif. Rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara peserta didik yang bekerja bersama.Peserta didik yang terlibat tutor sebaya akan merasa bangga atas perannya dan juga belajar dari pengalamannya. Hal ini membantu memperkuat apa yang telah dipelajari dan diperolehnya atas tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Ketika mereka belajar dengan tutor sebaya, peserta didik juga mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk mendengarkan, berkonsentrasi, dan memahami apa yang dipelajari dengan cara yang bermakna. Penjelasan melalui tutor sebaya kepada temannya lebih memungkinkan berhasil dibandingkan guru. Peserta didik melihat masalah dengan cara yang berbeda dibandingkan orang dewasa dan mereka menggunakan bahasa yang lebih akrab.
Metode ini dilakukan dengan cara memberdayakan siswa yang memiliki daya serap yang tinggi, siswa tersebut mengajarkan materi/latihan kepada teman-temannya yang belum faham. Metode ini banyak sekali manfaatnya baik dari sisi siswa yang berperan sebagai tutor maupun bagi siswa yang diajarkan (Suhito, 1986: 42). Peran guru adalah mengawasi kelancaran pelaksanaan metode ini dengan memberi pengarahan dan lain-lain.
Dalam penggunaan metode pembelajaran tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan, seperti halnya tutor sebaya. Uraian di atas adalah beberapa kelebihan metode tutor sebaya, sementara kekurangan metode ini antara lain, tidak semua siswa yang pintar (tutor sebaya) mampu menjelaskan dengan baik.
Peran guru dalam metode diskusi kelompok terbimbing model tutor sebaya hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing terbatas. Artinya, guru hanya melakukan intervensi ketika betul-betul diperlukan oleh siswa.
C. Remedial
Remedial adalah perbaikan untuk mencapai nilai sesuai standar ketuntasan. Pengajaran remedial adalah model pengajaran yang digunakan bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar, seperti yang dikemukakan Sri Hastuti, P.H (1992:1) yaitu “Pengajaran remedial secara umum dapat diartikan sebagai upaya yang berkaitan dengan perbaikan pada diri orang-orang atau suatu pemberian kepada anak sekolah yang terutama ditujukan kepada anak-anak yang mengalami hambatan dalam proses belajar mengajar”.
Intervensi pengajaran remedial yang cukup harus diajarkan pada siswa dengan cara yang mudah dimengerti dan pola perilaku yang berguna dalam hal instruksinya harus bisa digunakan sehingga ilmu pengetahuan yang diajarkan itu bisa diterapkan oleh siswa.
Sedangkan menurut Mulyono Abdurrahman (1999:20) menyatakan bahwa, “Pengajaran remedial bertolak dari konsep belajar tuntas, yang ditandai oleh sistem pembelajaran dengan unit pelajaran, guru melakukan evaluasi formatif dan setelah adanya evaluasi itulah anak-anak yang belum menguasai bahan pelajaran diberikan layanan remedial”.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian pengajaran remedial adalah suatu kegiatan yang bersifat perbaikan atau penyembuhan yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi peserta didik untuk semua materi pelajaran yang diajarkan.
D. Pengaruh Tutor Sebaya dalam Remedial Terhadap Motivasi Belajar Siswa
Kegiatan belajar mengajar adalah suatu interaksi yang bernilai normatif yang dilakukan secara sadar dan bertujuan. Dalam interaksi pembelajaran unsur guru dan siswa harus aktif, karena tidak mungkin terjadi proses interaksi bila hanya satu unsur yang aktif. Dalam hal ini aktif dalam sikap, mental, dan perbuatan.
Dalam sistem pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses, siswa harus lebih aktif daripada guru. Guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan pembimbing. Inilah yang disebut dengan interaksi edukatif sebagimana yang dikemukakan Abu Achmadi dan Shuyadi, 1985:47), interaksi edukatif adalah suatu gambaran hubungan aktif dua arah antara guru dan anak didik yang berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan.
Ada tiga pola komunikasi antara guru dan anak didik dalam proses interaksi edukatif, yakni komunikasi sebagai aksi, komunikasi sebagai interaksi, dan komunikasi sebagai transaksi. Komunikasi sebagai aksi atau komunikasi satu arah menempatkan guru sebagai pemberi aksi dan anak didik sebagai penerima aksi. Guru aktif, dan anak didik pasif. Mengajar dipandang sebagai kegiatan menyampaikan bahan pelajaran. Komunikasi sebagai interaksi atau komunikasi dua arah, guru berperan sebagai pemberi aksi atau penerima aksi. Demikian pula halnya anak didik, bisa sebagai penerima aksi, dapat pula sebagai pemberi aksi. Antara guru dan peserta didik akan terjadi dialog.
Komunikasi sebagai transaksi atau komunikasi banyak arah, komunikasi tidak hanya terjadi antara guru dan anak didik. Peserta didik dituntut lebih aktif dibanding guru, seperti halnya guru, siswa dapat berfungsi sebagai sumber belajar bagi siswa lain. Penggunaan variasi pola interaksi mutlak dilakukan oleh guru. Hal ini dimaksudkan agar tidak menimbulkan kejenuhan, monoton, serta untuk menghidupkan suasana kelas demi keberhasilan anak didik dalam mencapai tujuan dan hasil belajar.
Hasil belajar merupakan hasil dari proses kompleks, hal ini disebabkan banyak faktor yang terkandung di dalamnya, baik yang berasal dari faktor internal maupun faktor eksternal. Adapun faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar yaitu faktor fisiologi seperti kondisi fisik dan kondisi indera. Faktor psikologi meliputi bakat, minat, kecerdasan, kemampuan kognitif dan motivasi. Masalah motivasi inilah yang menjadi topik utama dalam tulisan ini.
Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Motivasi dapat pula diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
Dalam buku psikologi pendidikan (M. Dalyono 2005: 55) memaparkan bahwa “motivasi adalah daya penggerak/pendorong untuk melakukan sesuatu pekerjaan, yang bisa berasal dari dalam diri dan juga dari luar”. Sedangkan menurut Ngalim Purwanto dan Sartain mengatakan bahwa motivasi adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku terhadap suatu tujuan atau perangsang. Tujuan yang dimaksud di sini adalah yang membatasi atau menentukan tingkah laku organisme itu (Ngalim Purwanto, 2007 : 61).
Dengan demikian motivasi dalam proses pembelajaran sangat dibutuhkan untuk terjadinya percepatan dalam mencapai tujuan pendidikan pembelajaran secara khusus. Motivasi tersebut perlu dimiliki oleh para siswa dan guru untuk memperlancar pembelajaran. Tanpa adanya motivasi, maka proses belajar siswa akan sukar berjalan secara lancar. Dalam konsep pembelajaran, motivasi berarti seni mendorong peserta didik untuk terdorong melakukan kegiatan belajar sehingga tujuan pembelajaran tercapai.
Motivasi adalah syarat mutlak dalam pembelajaran. Guru harus mampu mendorong murid untuk aktif ambil bagian dalam kegiatan belajar (Rasyad, 2003:92). Upaya menggerakkan, mengarahkan, dan mendorong murid dalam kegiatan belajar mengajar dengan penuh semangat dan vitalitas yang tinggi dinamakan memberi motivasi. Banyak bakat anak tidak berkembang menurut Purwanto (2002:61) dikarenakan tidak diperolehnya motivasi yang tepat. Jika seseorang mendapat motivasi yang tepat, maka lepaslah tenaga yang luar biasa, sehingga tercapai hasil-hasil yang semula tidak terduga. Dalam proses pembelajaran para guru perlu mendesain motivasi yang tepat terhadap anak didik agar peserta didik mengeluarkan potensi belajarnya dengan baik dan memperoleh hasil yang maksimal.
Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan materi yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya atau memecah perhatiannya.
Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik tersebut sehingga ia mau terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran
Berlandaskan hal tersebut, motivasi ini membutuhkan rangsangan atau dorongan dari luar misalnya, metode komunikatif yang dapat menimbulkan dan memberikan inspirasi dan rangsangan dalam belajar. Adapun bentuk motivasi yang sering dilakukan di sekolah adalah memberi angka, hadiah, pujian, gerakan tubuh, memberi tugas, memberi ulangan, mengetahui hasil, dan hukuman.
Kaitannya dengan metode tutor sebaya, metode ini memberikan kesan hadiah sekaligus pujian kepada peserta didik, sehingga hal tersebut menjadi rangsangan secara tidak langsung. Pola kebersamaan yang terbangun menjadi kekuatan kebersamaan yang berpengaruh pula terhadap minat belajar peserta didik. Demikian pula metode tutor sebaya selain menjadi motivasi intrinsik juga sekaligus motivasi ekstrinsik.
E. Penutup
Tutor Sebaya dikenal dengan pembelajaran teman sebaya atau antara peserta didik. Tutor sebaya merupakan salah satu strategi pembelajaran untuk membantu memenuhi kebutuhan peserta didik. Ini merupakan pendekatan kooperatif bukan kompetitif. Rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara peserta didik yang bekerja bersama. Dalam pelaksanaan remedial, metode ini dilakukan dengan cara memberdayakan siswa yang memiliki daya serap yang tinggi, dimana siswa tersebut mengajarkan materi/latihan kepada teman-temannya yang belum tuntas dan mengalami kesulitan belajar. Dapat pula diartikan sebagai pemberdayaan peserta didik yang sebaya dalam upaya yang berkaitan dengan perbaikan peserta didik yang mengalami hambatan dalam proses belajar mengajar.
Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar. Terkait dengan hal itu, metode tutor sebaya mampu menciptakan rangsangan yang melahirkan motivasi terhadap peserta didik baik dalam bentuk motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.
Kepustakaan:
Abdurrahman, Mulyono. Pendidikan Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Depdikbud, 1999.
Hasibuan dan Moedjino. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993.
Hastuti, Sri P.H. 1992. Pengajaran Remedial. Yogyakarta: PT Mitra Gama.
http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/05/motivasi-belajar-siswa.html
http://bruderfic.or.id/h-129/peran-guru-dalam-membangkitkan-motivasi-belajar-siswa.html
Ischak S. W. & Warji R. Program Remedial dalam Proses Belajar Mengajar. Yogyakarta: Liberty, 1987.
Purwanto, Ngalim. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007.
Suhito. Evaluasi Pengajaran. Bandung: CV Maulana, 1986.
Surakhmad, Winarno. Metode Pengajaran. Jakarta: Depdikbud, 1994.
Surya dan Amin. Pengajaran Remedial. Jakarta: PD Andreola, 1980.
Wijaya, H. C. Pendidikan Remedial: Sarana Pengembangan Mutu Sumber Daya Manusia. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1996.
Artikel Terkait
•  Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share
•  Metode Pembelajaran Model Simulasi
•  Pembelajaran yang Berorientasi pada Aktivitas
•  Strategi Everyone is Teacher Here
•  Meningkatkan Kemampuan Pronunciation Bahasa Inggris Siswa
•  Pemanfaatan Video Sebagai Media untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa
•  Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Team Games Tournament (TGT)
•  Teknik Tes dan Non Tes dalam Evaluasi
•  Manfaat Media dalam Kegiatan Belajar Mengajar
•  Ciri Pokok Kegiatan Belajar Mengajar
•  Pembelajaran Terpadu
•  Penerapan Sistem Moving Class (Kelas Berpindah)
•  Meningkatkan Kemampuan Menulis Puisi Melalui Teknik Gali Kunci
•  Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT)
•  Penataan Ruang Kelas Menjadi Sentra Belajar

Poskan Komentar